Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan komitmennya dalam memperkuat kerja sama internasional melalui partisipasi aktif dalam forum bergengsi WUACD Summit 2025 yang diselenggarakan bersama AMBC 2025 dan AUN/SEED-Net Regional Conference 2025: ASEAN BCG Network Meeting and Conference. Kegiatan penting ini berlangsung selama empat hari dari tanggal 13 hingga 16 Juni 2025 di dua institusi ternama, yaitu Universitas Airlangga (UNAIR) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya.
Forum internasional ini memiliki signifikansi yang sangat penting karena mempertemukan para akademisi terkemuka, peneliti berpengalaman, dan berbagai pemangku kepentingan dari seluruh kawasan ASEAN. Fokus pembahasan utama dalam konferensi ini adalah penguatan kerja sama riset dan inovasi di bidang Bio-Circular-Green (BCG) Economic, yang mencakup aspek-aspek krusial seperti ketahanan pangan, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, dan peningkatan kesehatan masyarakat.
UMM menunjukkan keseriusannya dalam forum ini dengan mengirimkan tiga delegasi terbaik yang memiliki keahlian dan pengalaman luas di bidangnya masing-masing. Tim utusan tersebut dipimpin oleh Dr. (HC) Priyo Iswanto, MH yang menjabat sebagai Staf Khusus Rektor Bidang Kerjasama Internasional, didampingi oleh dua akademisi berpengalaman yaitu Ir. Iis Siti Aisyah, ST., MT., Ph.D., IPM dan Nur Izzatul Maulidah, SP, M.Sc., Ph.D. Pemilihan utusan ketiga ini sangat strategis mengingat keahlian mereka yang sangat relevan dengan tema-tema yang dibahas dalam konferensi.
Kehadiran utusan UMM di forum internasional ini tidak hanya sebagai peserta pasif, namun sebagai kontributor aktif yang memberikan nilai tambah bagi diskusi dan pembahasan yang berlangsung. Hal ini tercermin dari antusiasme dan apresiasi yang diberikan oleh peserta lain terhadap presentasi dan kontribusi yang diberikan oleh tim UMM sepanjang kegiatan berlangsung.
Salah satu pencapaian yang menarik dari partisipasi UMM dalam forum ini adalah kesempatan untuk menampilkan hasil-hasil penelitian unggulan yang telah dikembangkan selama ini. Tim mengungkapkan UMM berhasil tampil memukau melalui dua sesi presentasi yang berbeda namun saling melengkapi, menunjukkan kualitas dan kualitas penelitian yang telah dilakukan di universitas.
Pemaparan pertama disampaikan dalam sesi ASEAN BCG Network Meeting, di mana delegasi UMM menyoroti berbagai penelitian inovatif yang telah dikembangkan di bidang pangan, pengolahan limbah, dan kesehatan. Presentasi ini mendapat perhatian khusus dari peserta karena relevansinya yang tinggi dengan tantangan-tantangan yang sedang dihadapi oleh negara-negara ASEAN dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Riset-riset yang dipresentasikan menunjukkan bagaimana UMM telah berkomitmen untuk mengembangkan solusi-solusi praktis yang dapat diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan nyata di masyarakat.
Presentasi kedua dilakukan dalam forum WUACD (World University Association for Community Development), di mana tim UMM memaparkan inovasi revolusioner terkait penggunaan biomaterial dari bahan-bahan alami seperti cangkang telur, cangkang bekicot, dan cangkang cangkang dalam pembuatan implan biodental. Inovasi ini menunjukkan bagaimana UMM mampu mengembangkan teknologi ramah lingkungan yang memanfaatkan limbah organik untuk menciptakan produk bernilai tinggi di bidang kesehatan.
Tidak hanya itu, dalam forum WUACD, utusan UMM juga berkesempatan menampilkan portofolio lengkap penelitian unggulan di bidang Bio-Material yang telah dikembangkan selama bertahun-tahun. Portofolio ini mencakup pengembangan Bio-Lubricant yang ramah lingkungan sebagai alternatif pelumas konvensional, teknologi Bio-Dental untuk aplikasi kedokteran gigi, inovasi Bio-Carbon untuk berbagai aplikasi industri, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengembangan Bio-Energy termasuk teknologi produksi hidrogen sebagai sumber energi masa depan.
Salah satu hasil penting dari konferensi ini adalah menetapkan agenda strategis ASEAN BCG Network untuk tahun 2026 yang disepakati dalam rapat pleno. Setelah melalui diskusi mendalam dan pertimbangan matang dari seluruh peserta, disepakati bahwa program kerja tahun depan akan difokuskan pada tiga bidang strategi yang dianggap paling krusial untuk pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN.
Bidang pertama yang menjadi fokus adalah Ketahanan Pangan atau Ketahanan Pangan, yang mengingat pentingnya memastikan ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan bergizi bagi seluruh populasi ASEAN di tengah berbagai tantangan seperti perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan degradasi lingkungan. Bidang kedua adalah Pengelolaan Limbah atau Pengelolaan Limbah, yang menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya volume limbah akibat pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi yang pesat di kawasan ASEAN. Bidang ketiga adalah Kesehatan atau Kesehatan, yang mencakup berbagai aspek mulai dari pengembangan teknologi kesehatan hingga peningkatan akses layanan kesehatan berkualitas.
Seluruh anggota jaringan ASEAN BCG Network, termasuk UMM, diharapkan dapat merancang dan mengusulkan kegiatan riset serta kolaborasi internasional yang sesuai dengan salah satu atau lebih dari ketiga bidang fokus tersebut. Hal ini membuka peluang besar bagi UMM untuk mengembangkan riset-riset yang tidak hanya berkualitas tinggi tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat luas.
Salah satu breakthrough penting yang berhasil dicapai melalui partisipasi dalam forum ini adalah terbukanya peluang kerja sama strategis antara UMM dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peluang kerja sama ini disampaikan langsung dalam forum dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak yang hadir. Kerja sama dengan BRIN ini sangat strategis karena akan memungkinkan UMM untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas canggih dan alat-alat pengujian modern yang dimiliki oleh BRIN.
Akses terhadap fasilitas dan peralatan canggih BRIN akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas dan validitas penelitian yang dilakukan di UMM, khususnya dalam bidang-bidang yang menjadi fokus seperti bio-material, bioenergi, dan berbagai bidang rekayasa hayati lainnya. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, diharapkan hasil-hasil penelitian UMM dapat mencapai standar internasional yang lebih tinggi dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Baca juga: UMM Jalin Kerjasama Beasiswa dan Program Pengajaran dengan Asian Foundation Kamboja
Partisipasi dalam konferensi internasional ini memberikan manfaat yang sangat besar dalam hal perluasan wawasan terhadap perkembangan riset dan community services yang telah dilakukan oleh berbagai universitas terkemuka di kawasan ASEAN dalam area Bio-Circular-Green Economy. Melalui berbagai sesi presentasi, workshop, dan diskusi panel yang berlangsung selama empat hari, delegasi UMM mendapatkan insight berharga tentang best practices dan inovasi-inovasi terdepan yang telah dikembangkan oleh institusi-institusi mitra.
Exposure terhadap berbagai pendekatan dan metodologi penelitian yang diterapkan oleh universitas-universitas lain memberikan perspektif baru bagi UMM dalam mengembangkan strategi riset ke depan. Hal ini juga memungkinkan UMM untuk melakukan benchmarking terhadap standar internasional dan memposisikan diri secara strategis dalam agenda regional maupun global terkait pembangunan berkelanjutan.
Salah satu pencapaian penting lainnya dari partisipasi dalam forum ini adalah berhasilnya delegasi UMM menjalin komunikasi awal dengan Dr. Niko yang menjabat sebagai secretary WUACD (World University Association for Community Development). Komunikasi ini membuka peluang besar untuk keterlibatan UMM dalam program-program pengabdian internasional yang melibatkan tidak kurang dari 41 universitas dari berbagai negara.
Peluang pengabdian internasional ini sangat strategis bagi UMM karena akan memungkinkan universitas untuk berkontribusi secara aktif dalam program-program pengabdian lintas negara yang memiliki dampak global. Selain itu, keterlibatan dalam jaringan internasional ini juga akan memperkuat reputasi UMM sebagai universitas yang berkomitmen terhadap pengabdian kepada masyarakat tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat internasional.
Dr. (H.C) Priyo Iswanto, M.H selaku ketua delegasi dan Staf Khusus Rektor Bidang Kerjasama Internasional menyampaikan bahwa partisipasi UMM dalam forum bergengsi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang universitas dalam membangun dan memperkuat kerja sama internasional. Menurutnya, forum ini menjadi wadah yang sangat strategis dalam membangun jaringan kerja sama internasional yang akan berdampak positif terhadap peningkatan kapasitas penelitian dan inovasi, khususnya di bidang bioteknologi dan bio-ekonomi yang menjadi fokus utama pengembangan UMM.
“Forum ini menjadi wadah strategis dalam membangun kerja sama internasional untuk meningkatkan kapasitas penelitian dan inovasi, khususnya di bidang bioteknologi dan bio-ekonomi. Terdapat berbagai tawaran kerja sama dari institusi nasional maupun internasional, seperti BRIN, NSDA, dan mitra universitas lain yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat posisi UMM di jaringan BCG ASEAN,” ungkap Dr. Priyo Iswanto dalam laporannya kepada Rektor UMM.
Lebih lanjut, Dr. Priyo Iswanto menekankan bahwa keikutsertaan UMM dalam jaringan ASEAN BCG Network bukan hanya sebagai anggota pasif, tetapi sebagai kontributor aktif yang siap mengembangkan berbagai inisiatif kolaboratif strategis ke depannya. Hal ini sejalan dengan visi dan misi UMM sebagai universitas yang berkomitmen terhadap excellence in education, research, and community service.
Hasil dari partisipasi dalam konferensi ini diharapkan dapat menjadi stepping stone bagi UMM untuk mengembangkan berbagai program dan kegiatan lanjutan yang akan memperkuat posisi universitas dalam konsorsium riset regional maupun global. Beberapa langkah strategis yang akan ditempuh antara lain adalah penjajakan Memorandum of Understanding (MoU) dengan berbagai institusi mitra yang telah diidentifikasi selama konferensi berlangsung.
Selain itu, UMM juga berencana untuk mengembangkan proposal-proposal riset kolaboratif yang melibatkan universitas-universitas mitra dari berbagai negara ASEAN, dengan fokus pada ketiga bidang prioritas yang telah ditetapkan yaitu ketahanan pangan, pengelolaan limbah, dan kesehatan. Proposal-proposal ini akan dirancang dengan standar internasional dan diharapkan dapat menarik dukungan pendanaan dari berbagai sumber, baik nasional maupun internasional.
Yang tidak kalah pentingnya adalah rencana untuk memperkuat kapasitas pelayanan internasional melalui kerja sama dengan WUACD dan jaringan 41 universitas internasional yang telah dirintis komunikasinya. Program pengabdian internasional ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai tantangan global, sekaligus meningkatkan visibilitas dan reputasi UMM di kancah internasional.
Dengan berbagai pencapaian dan peluang yang telah berhasil diraih melalui partisipasi dalam ASEAN BCG Network 2025 ini, UMM semakin mantap dalam komitmennya untuk terus berkontribusi aktif dalam pembangunan berkelanjutan melalui penelitian dan inovasi berkualitas tinggi yang berdampak positif bagi masyarakat luas, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat regional dan global.
Baca selanjutnya: UMM dan Polda Jatim Perkuat Kerjasama melalui Kunjungan Monitoring dan Evaluasi Kerjasama